20 September 2020 | Dilihat: 449 Kali
Menata Kesejahteraan Nelayan, Jemy Yusuf : Ini Sikap Perubahan Muchtar-Bakri Disektor Perikanan Laut
noeh21

Tolitoli, infoaktualnews.id |Tim pemenangan calon Bupati dan wakil bupati Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng) Muchtar-Bakri, Jemy Yusuf. Spt menyatakan bahwa menurut penelitian LIPI pada 2014 san menyebut potensi tangkapan perikan di perairan laut Tolitoli sekitar 60 ribu ton per tahun. Sementara yang dikelola baru sekitar 25 ribu ton, berarti masih ada 35 ribu ton lagi potensi tangkapan yang belum disentuh.
 

Ditemui media ini di cafe terapung Harapan, sabtu (19/9/20), mantan staf ahli Fraksi PAN DPR RI ini, mengataan sesuai data statistik, jumlah keluarga yang menggantungkan hidupnya dari nelayan tangkap ada sekitar 2800 san nelaya.

Dari 2800 nelayan kita  itu, ada sekitar 35 persen masih sangat tradisional, belum punya perahu, tidak miliki alat tangkap, pancing, pukat, rumpon dan seterusnya.
 

“Alat tangkapnya ada tapi tidak miliki perahu, ada perahunya namun masih menggunakan dayung manual, tidak punya mesin,” ujar pria yang pilih berehenti dari PNS di jakarta, dan pulang kampung jadi pengusaha itu.

Bayangkan saja, lanjut Jemy, dengan potensi tangkapan ikan yang begitu besar di laut Tolitoli ini, ternyata masih ada 30 persen sodara kita nelayan berburu ikan dengan tidak didukung peralatan memadai, manual, sangat  tradisional, dan ini adalah tanggung jawab pemerintah daerah (pemda).
 

“Sebab itu, kak Muchtar berpesan ke saya bahwa kalau masyarakat Tolitoli percaya saya dan temanku Bakri memipin daerah ini, maka insa allah kita lakukan perubahan disektor ini, termasuk yang 30 persen yang alatannya belum memadai tadi. Kita berdayakan, kita angkat produtivitasnya sampai bisa menyamai sodaranya nelayan lain, itu satu,” ucap Jemy Yusuf menirukan janji calon Bupati Muchtar.

Yang kedua, tambah Jemy, pasangan Muchtar-Bakri melihat hari ini ada ketidak adilan disektor ini.  Kenapa, pemerintah pusat dan pemda mestinya hadir disitu, harus tampil sejahtrakan nelayan, apa lagi ada KUR (Kredit Usaha Rakyat) tersedia  disana.
 

Tetapi faktanya, KUR  yang tadinya diharapkan menopang usaha ekonomi rakyat disektor perikanan laut ternyata sangat rendah, baru sekitar 2 persen saja masyarakat pesisir mendapat fasilitas KUR nelayan.

“Supaya bapak tau, dukungan KUR disektor nelayan selama ini terlalu kecil, sementara pemasukan uang dari hasil tangkapan ikan laut di Tolitoli, menurut PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) – grafik kondisi ekonomi wilayah dalam satu periode – mencapai Rp 585 miliar per tahun. Nah pertanyaan besar kita hari ini adalah apakah itu adil,” tegas Jemy menirukan kegalauan Muchtar.

Ketiga, di perbankan KUR terlalu aku mensyaratkan anggunan, yang  bisa dianggunkan nelayan cuma alat tangkap, sementara pihak bank tidak membolehkan itu untuk dijadikan anggunan dengan macam-macam alasan, pada hal alat tangkap nelayan ini nilainya puluhan juta, bahkan ada yang ratusan juta.  

Lagi pula, kata Jemy, meski kehati hatian tetap diutamakan, tapi sebenarnya KUR itu harusnya tidak semata melihat pada jaminan, apa lagi kan pemeintah sudah berjanji bahwa untuk kredit mikro 50 keatas seyokyanya pihak KUR melihat nelayan calon nasabah itu seca raril bahwa mereka memang penangkap ikan yang butuh pembiayaan, permodalan.

Bagaimana usaha kita (nelayan, red) bisa lancar kalau bupati cuma kasih katinting tapi tidak bantu modal,” ujar wakil ketua DPRD Tolitoli dari Fraksi Golkar itu menirukan keluhan seorang pemancing saat pihaknya bertemu di komplex nelayan di kampung pajala.

Makanya Muchtar bilang, ujar Jemy, jika kita mendapat mandat Rakyat di pilkada 9 desember nanti, insa allah kita pemda bersama DPRD segera  berdiskusi dengan pengusaha perbankan untuk supaya program KUR bisa benar-benar bersikap adil terhadap nelayan di Tolitoli, karena nelayan punya andil PDRB sangat besar disektor itu.
 

“Kontribusi nelayan selama  inilah harus diukur juga oleh pemda dan pemerintah pusat, dalam hal ini Bank plat merah. Melalui apa, ya itu tadi, melalui KUR yang adil,” pintah tim sukses Muchtar –Bakri bidang saksi itu.

Jadi intinya nanti, tegas Jemy  dalam konsep perubahan Muchtar-Bakri disektor ikan laut, Bank pemerintah haruslah masuk bersama pemda, sebagai bentuk perhatian lewat KUR itu, sehingga diperoleh keseimbangan hidup antara Rakyat nelayan dan pengelola pemerintahan dalam pembangunan disektor perikanan laut.

“Jangan lagi seperti yang sudah-sudah, dikasih katingting tapi tidak ada perahunya, tidak dikasih modal, tidak pula didampingi ahli perikanan, jaminan pasarnya juga tidak dibuka, dan begitu dia (nelayan, red ) terdesak, akhirnya dia jual katintingnya,” kunci Jemy. (din)



 

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan Anoa No 27 Palu  0822-960-501-77
E-Mail : Infoaktual17@yahoo.com
Rek : mandiri 1510005409963