17 Juni 2023 | Dilihat: 243 Kali
Kronologi Intimidasi Wartawan Senior Udin Lamatta Di Ruang Periksa Polres Tolitoli
noeh21

​​​​​​Oleh : ATHIA
Infoaktual.id - Tolitoli l Tulisan tentang "Kebohongan Saksi Verbalisan disidang Krimi nalisasi Wartawan senior Udin Lamatta" (bag.3), sebenarnya sudah hendak aku cukupkan tapi beberapa komentar atas tulisan itu mendorongku mengulasnya lagi untuk jadikan kejelasannya.

Rasa penasaran pembaca, utamanya karena disatu sisi saksi verbalisan seorang Penyidik mewakili sebuah Institusi Penegakan Hukum negeri ini,  polres tolitoli.

Tapi dengan sangat ringan dan percaya diri ia nyatakan kebohongannya ketika bersaksi dihadapan majelis hakim, apalagi telah disumpah dengan KITAB SUCI Al QUR'AN diatas kepalanya pula.

Intimidasi yang nyata telah dilakukan Kanit Ahmad terhadap terlapor saat ini terdakwa Udin lamatta di ruang periksa Polres pada 24 Maret 2022 lalu itu diingkarinya, disisi lain bukti menggugurkan kebohongannya itu.  

Kursi plastik merah dengan lubang di punggung kursi yang diduduki pemredku, beserta serpihannya berserak dilantai saat itu telah terdokumentasi.

Ditambah beberapa peristiwa pasca insiden 24 Maret 2022 itu. Percakapan telfon Pemred mediaku dengan Kapolres, juga Kasat lama (Rizal),  malam harinya selepas peristiwa tendang kursi itu.

Lalu pertemuan diskusikan insiden tendang kursi itu keesokan paginya di ruang Kasat Reskrim Polres setempat. Kesemua itu  makin pertajam kebohongan Saksi sedemikian utuhnya.

Tapi baiklah, untuk makin jadikan lebih terang benderangnya kasus intimidasi ini, aku akan ceritakan  kronologis singkatnya.

Insiden tendang kursi itu berawal dari Pemred mediaku yang hendak meminta pencerahan terkait dasar hukum laporan mantan Bupati dua periode kota Cengkeh ini, pada 22 September 2021 yang disematkan Penyidik pada pasal 27 ayat 3 UU ITE.

Ketika pada 24 Maret 2022 wartawan senior Udin Lamatta itu penuhi panggilan sebagai saksi, dan kembali meminta pencerahan hukum dan fakta yang menunjuk berita itu mencemarkan dan menghina mantan bupati dua periode Alex Bantilan itu.

Lagi lagi, seperti telah terjadi dipanggilan sebelumnya, penyidik Kanit Ahmad enggan menjelaskan dasar hukum dan substansi laporan mantan Bupati yang juga merupakan (katanya) raja tolitoli itu.

Pemicu ketegangan komunikasi antar pemredku dan Kanit ahmad adalah ketika kedua belah pihak kekeh pada argumen masing masing.

Kanit Tipiter Reskrim Polres Tolitoli, Iptu Ahmad, SH berpegang hanya  pada pendapat ahli bahasa, Dewan Pers dan seterusnya, dengan tentu mengabaikan UU pers dan UU aturan kesepahaman lainnya dalam pemredku menjalankan tugas jurnalistiknya.

Pemred mediaku infoaktual.id  berpedoman pada UU dan aturan hukum tersebut, yakni pasal 28E UU 1945, UU Pers 40, UU ITE pasal 45 ayat 6 dan 7, nota kesepahaman polri dan dewan pers, pasal 63 ayat 2 KUHP dan lainnya,  berikut 10 data yang dipegang Infoaktual sebagai rujukan ditayangkannya berita dugaan dekadensi moral yang berimplikasi pada terkurasnya apbd secara simpang mantan Bupati Alex Bantilan tersebut.

Tapi oleh Kanit Ahmad nyatakan Pemred Udin lamatta dianggapnya BER ALIBI. Hanya kemukakan alasan pembenaran saja. Kanit ahmad lalu sarankan Pemredku untuk jadikan itu sebagai pegangan untuk pembelaan di Pengadilan nantinya. Sambil menambahkan bahwa UU Pers masih perlu diuji.

Suasana saat itu makin memanas ketika dari sikap hukum kaca mata kuda Kanit Ahmad tersebut, Pemredku minta Kanit Ahmad mengklaim bahwa penyidik abaikan semua UU dan aturan itu tapi ditolaknya juga.

Kanit Ahmad seketika mulai emosi saat Pemred tekankan pernyataan..."Jika tidak bisa beri pencerahan bagaimana caranya seperti meraba raba saja ?",

"Bukan meraba raba tapi ini putusan ahli (dewan pers), bukan ranah saya memvonis. Ini kewenangan hakim" sambut Kanit mulai berang dengan meneruskan kalimat "mau diperiksa apa tidak, kalau tidak kita naikkan saja, tidak adak masalah.

Aku sudah tidak terlalu perhatikan lagi kelanjutan kalimat yang dilontarkan Kanit saat itu, demi saksikan Pemred mediaku tak kalah gencarnya dengan menarik kursi yang tengah didudukinya keposisi semakin maju, berhadap hadapan dengan  Kanit Ahmad sedemikian dekatnya.

Dengan kalimat Pemred yang masih aku ingat.."Tidak apa..saya malah penasaran.." diakhir lontaran kalimat itu spontan aku inisiatif menarik sebelah lengan Pemredku berdiri demi melihat Kanit yang makin berang.

"Mau kemana...!", suara keras Kanit ketika aku paksakan Pemredku tinggalkan ruangan untuk tujuan redahkan situasi yang makin memuncak ditengah sikap berang Kanit Ahmad.

Ketika aku telah berhasil menarik  lengan Pemred keluar ruangan tidak lama, hanya hitungan detik terdengar suara keras tendangan kursi yang tadinya diduduki Pemred mediaku.  

Suara itu sedemikian kencangnya, gambarkan emosi Kanit yang sebegitu berangnya,  sampai sampai serpihan kursi plastik terhambur keluar ruangan, sebagiannya jatuh tepat didekat sepatu Pemredku yang dengan sigap dan refleks mendokumentasikannya.  Tak terkecuali kursi bekas tendangan yang ciptakan lubang di punggung kursi.

Insiden itu terjadi didalam ruang periksa, dan keberadaan Pemred pun masih dalam lingkup ruangan. Dimuka pintu masuk ruangan. Pertanyaabku, Apakah ini semua bukan Intimidasi ???

Pemredku goyah, lalu ditensi depan kasat rijal. Lantas, tekanan darah udin lamatta naik 200 lebih sampai akhirnya dirawat  diklinik polres.

Aku masih ingat dengan persis, selain Kanit Ahmad,  ada tiga orang penyidik lain dalam ruangan saat itu, salah seorang diantara ketiga nya adalah SAKSI VERBALISAN.
Tapi ketika dalam persidangan Senin 5 Juni lalu,

KENAPA SAKSI VERBALISAN SEDEMIKIAN NEKAT INGKARI KENYATAAN  INSIDEN INTIMIDASI yang berlangsung dihadapannya kala itu ?  KENAPA DIA LAKUKAN SEBUAH KEBOHONGAN dihadapan Majelis Hakim  ?

Atau jangan jangan karena Saksi verbalisan tidak memahami  makna kata Intimidasi ? Ahh..tapi masak iya sihh... ? Sangatlah Impossible banget jika tidak dia fahami..?

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan Anoa No 27 Palu  0822-960-501-77
E-Mail : Infoaktual17@yahoo.com
Rek : BCA 7920973498