Infoaktual.id Jakarta || Menyambut Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 29 Mei, perhatian terhadap kesehatan mental lansia kian penting di tengah perubahan pola hidup masyarakat modern.
Salah satu kebutuhan mendasar yang kerap luput diperhatikan adalah kebutuhan bercerita dan didengarkan dengan tulus.
Dalam tulisan reflektif berjudul “Lansia: Butuh Cerita, Bukan Sekadar Didengar”, penulis musab soemardjan menyoroti bagaimana kehidupan lansia sering kali berubah drastis setelah memasuki masa pensiun.
Ruang interaksi sosial menyempit, anak-anak mulai hidup mandiri, sementara rumah yang dahulu ramai perlahan menjadi sunyi.
Fenomena ini dikenal sebagai empty nest syndrome atau sindrom sarang kosong, yakni kondisi ketika orang tua merasa kehilangan suasana hangat keluarga setelah anak-anak beranjak dewasa dan tinggal terpisah.
Di tengah kesibukan generasi muda, lansia pun sering merasa kesepian dan kehilangan tempat untuk berbagi cerita hidupnya.
“Bercerita bagi lansia bukan sekadar nostalgia, melainkan kebutuhan psikologis untuk merasa tetap bermakna dan dihargai,” tulis musab soemardjan.
Dijelaskan Musab, saat lansia mendapat kesempatan untuk bertutur dan didengarkan dengan penuh perhatian, tubuh memproduksi hormon dopamin yang mampu meningkatkan rasa bahagia dan semangat hidup.
Sebaliknya, ketika cerita mereka diabaikan, rasa kecewa dapat memicu stres hingga gangguan kesehatan mental.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2024 bahkan menyebut sekitar 14 persen lansia usia 70 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental, terutama depresi dan kecemasan akibat rasa sepi dan keterasingan sosial.
Tak hanya itu, penelitian di Kerala, India pada 2025 juga menunjukkan bahwa Life Review Therapy (LRT) atau terapi kilas balik kehidupan mampu membantu mengurangi depresi sekaligus meningkatkan ketahanan mental lansia.
Menurut musab soemardjan, kebiasaan lansia yang kerap mengulang cerita sebenarnya bukan semata-mata tanda gangguan, melainkan bagian dari proses refleksi hidup.
Namun, kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh menurunnya fungsi otak depan yang mengatur kontrol dalam berbicara.
Karena itu, keluarga dan lingkungan sekitar diharapkan mampu menciptakan ruang komunikasi yang hangat dan sehat bagi para lansia.
Salah satunya dengan menyediakan waktu khusus untuk mendengarkan kisah-kisah mereka tanpa memotong pembicaraan atau menunjukkan sikap acuh.
“Menjadi tua itu kodrati. Menjadi lansia bahagia itu keharusan,” tulisnya.
Momentum Hari Lansia Nasional 2026 ini pun diharapkan menjadi pengingat bahwa perhatian kepada lansia tidak cukup hanya lewat pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga melalui kehadiran emosional dan komunikasi yang penuh empati.
Dengan memberi ruang bagi lansia untuk bercerita, keluarga sejatinya sedang membantu menjaga kesehatan jiwa, memperkuat daya ingat, sekaligus menghadirkan kebahagiaan di usia senja. (otoritas/hl)