15 Maret 2026 | Dilihat: 246 Kali
Harga Drone Shahed Iran 320 Juta, Robot Anjing Polri 3 Miliar, Adalah Bukti Indonesia Kandang Koruptor ?
noeh21

Infoaktual.id Jakarta || Perbandingan harga teknologi keamanan negara kembali menjadi sorotan publik, menyusul warganet membandingkan drone Shahed Iran dengan robot anjing milik Polri.
 

Hal tersebut ramai dibicarakan di media sosial karena perbedaan harga dan kemampuan  kedua perangkat itu dinilai publik sangat mencolok.

Bagaimana tidak, drone Iran yang kerap dibicarakan dalam pemberitaan adalah varian Shahed-136 yang digunakan dalam sejumlah operasi militer Iran.

Perangkat ini termasuk kategori One Way Attack, atau drone bunuh diri yang menyerang target dengan menabrakkan diri.

Sistem operasional drone ini menggunakan koordinat target yang telah diprogram melalui GPS (Global Positioning System).

Artinya, ketika mencapai titik sasaran, drone ini akan menghantam target dan meledak bersama hulu ledak yang dibawanya.

Drone Shahed-136 tersebut membawa bahan peledak dengan berat sekitar 30 hingga 50 kilogram dalam satu misi serangan.
 

Jangkauan operasionalnya juga cukup jauh karena mampu terbang hingga sekitar 2.000 sampai 2.500 kilometer.

Kecepatan drone ini sekitar 185 kilometer per jam dengan mesin piston yang menghasilkan suara khas saat beroperasi.

Ukuran yang relatif kecil serta ketinggian terbang rendah membuat drone tersebut cukup sulit dideteksi radar.

Strategi penggunaan drone ini biasanya dilakukan secara berkelompok atau swarm untuk menekan sistem pertahanan udara lawan.

Keunggulan utama Shahed terletak pada biaya produksinya yang relatif murah dibandingkan sistem senjata modern lain.

Harga satu unit drone diperkirakan berkisar antara 20 ribu hingga 50 ribu dolar Amerika Serikat atau setara Rp320 juta.

Sebaliknya, robot anjing milik Kepolisian Indonesia yang dikenal sebagai robodog i-K9 disebut memiliki harga sekitar Rp3 miliar.
 

Perangkat ini baru sebatas membantu personel kepolisian menjalankan tugas di area yang berisiko tinggi bagi manusia, hal mana robot tersebut digunakan untuk memasuki bangunan runtuh di lokasi bencana, atau area berbahaya lainnya.

Selain itu, robodog itu juga bisa mendeteksi bahan peledak, zat radioaktif, maupun bahan kimia berbahaya.

Perangkat ini dilengkapi sensor LiDAR – sebuah teknologi penginderaan jauhkamera visual, dan kamera termal (kamera deteksi radiasi panas atau inframerah) untuk memetakan lingkungan secara real time.

Teknologi kecerdasan buatan di dalamnya juga mampu mendukung analisis perilaku manusia serta pengenalan wajah.

Robot anjing ini pula dipakai sebagai patroli pintar guna mengidentifikasi individu yang masuk daftar pencarian orang.

Dalam hal mobilitas, robot tersebut bisa bergerak di medan sulit dan kemiringan hingga sekitar 45 derajat. Robot ini memiliki waktu operasional hingga delapan jam dalam sekali penggunaan di lapangan.
 

Selain fungsi keamanan, robodog juga digunakan untuk kebutuhan forensik, patroli publik, hingga dukungan logistik.

Meski memiliki berbagai kemampuan teknis, sebagian warganet dan publik tetap mempertanyakan efisiensi biaya pengadaan perangkat tersebut.

Sebagian pihak menilai drone Shahed lebih efisien dan efektif, karena mampu menyerang target bernilai tinggi dengan biaya relatif kecil.

Sebaliknya, robot anjing i-K9 itu dinilai masih perlu membuktikan manfaat nyata supaya sebanding dengan nilai investasinya, harganya.

Yang pasti, suka atau tidak suka, dengan perbedaan harga yang demikian jaoh, maka Indonesia pantas disebut kandang koruptor. (suara.com/ChuCho/hl)


 

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan Anoa No 27 Palu  0822-960-501-77
E-Mail : Infoaktual17@yahoo.com
Rek : mandiri 1510005409963