CUDY SANG PENATA PERADABAN SULTENG, LEWAT BUKU DIA RASA KEMANA ZAMAN INI BERGERAK
Oleh : Azman Askar
Infoaktual.id | Saya kagum kepada para Bibliophile (penggemar membaca buku), selain bisa meng-upgrade pengetahuan baru, membaca juga bisa membantu kita memahami masa depan yang lebih kongkrit.
Suka atau tidak, orang tak gemar baca membaca biasanya sering latah, emosian dan mudah tersinggung.
Nah, terhadap hal tersebut saya menyorot sosok Cudy (sapaan akrab Haji Rusdy Mastura,red) dalam prespektif buku bacaannya diusia 74 itu. Bayangkan saja, dengan usia demikian, daya tahan membaca mantan Walikota Palu dua periode itu masih sangat tinggi, bahkan daya ingatnya tetap kuat.
Maka tak heran, setiap buku yang dia baca, Cudy mampu menjelaskan resensinya (isinya) secara sistematis – tidak hanya sekali Cudy ceritakan ke saya tentang resensi koleksi buku bacaannya.
Dimomen kampanye terbatas, saya tidak tahu persis dimana lokasinya, Cudy tiba-tiba bicara tentang Homo Deus, sebuah maha karya di abad terkini dari sang Profesor Yuval Noah Harari tentang masa depan umat manusia.
Bukan main lompatan pengetahuan Om Cudy, pilihan bacaannya saja sudah menandakan memang Om Cudy itu benar-benar visioner – ia paham kemana zaman ini hendak bergerak.
Pantas saja, dalam debat Pilkada di Tv kemarin, ia terlihat begitu santai dan fasih bicara tentang gagasan besar. Beliau benar-benar memperlihatkan kualitasnya sebagai seorang pemikir, sekaligus pemimpin.
Cudy, bagi saya tidak hanya ingin menarik Provinsi Sulawesi Tengah sampai dititik setara dengan Provinsi lainnya, tapi ia juga tampaknya ingin menuntun cara berfikir kita pada hal-hal besar.
Pernahkah kita mendengar pidato bung Karno bertema To Build The World Anew (untuk membangun dunia yang baru) yang getarkan sidang PBB pada 1960, atau gagasan pencetus gerakan Non Blok, sekaligus perdana mentripertamaIndia, Jawaharlal Nehru.
Gagasan dimaksud adalah Tryst with Destiny (mencoba dengan takdir). Gagasan seperti itu hanya bisa diucapkan oleh mereka yang punya cukup pengetahuan, serta berfikiran maju.
Dan cara berfikir Cudy ada dilevel pada kedua tokoh itu, ia mampu memprediksi masa depan dengan pengetahuan yang ia miliki secara teoritik dan empirik.
Yang pasti, Haji Rusdy Mastura benar-benar terlahir sebagai intelektual organik, termasuk pegawai struktur pemerintahan.
Disaat yang lain, masih bicara tentang administrasi birokrasi, ia sudah jauh bicara tentang Artifficial Intelegence robotik. Satu term (suatu periode waktu) yang mungkin belum sampai ke dalam ruang pikir calon kepala daerah lainnya.
Akhirnya, percayalah masa depan yang baik Sulawesi Tengah ada pada gagasan besar seorang Rusdy Mastura. (penulis adalah tim kreatif sangganipa, dan diedit tanpa hilangkan makna naskah aslinya)