BERSAMA JAMAAH LORONG MAKASSAR, USTAD M YASMIN WUJUDKAN KA’BAH DI KOTA PALU
Infoaktual.id Palu | Di Kota Palu Sulawesi Tengah (Sulteng) ada lorong bernama lorong Makasar membuat awak Media ini terkesima melihat sebuah bangunan menyerupai Baitullah (Ka’bah) yang ada di Mekkah arab saudi, nampak berdiri megah di tengah perkampungan di Lorong Makssar itu.
Tentu saja awak media ini diliputi berbagai tanya atas keberadaan bangunan berbentuk Ka'bah yang letaknya tidak jauh dari pasar Inpres, sebuah pasar tradisional terbesar dimiliki kota Religi itu.
Rasa penasaran pun datang, lalu mendekati bangunan kembaran Ka'bah itu. Dan ternyata, bangunan tersebut benar adalah Masjid, dengan design menyerupai Ka'bah.
Masjid yang dinamai Masjid Baiturahhim ini ternyata menyimpan serangkaian kisah mencengangkan dalam perjalanan pembangunannya yang sisakan haru biru, sekaligus rasa takjub mendengarnya.
Ustadz Muhammad Yasmin, sang penggagas menceritakan rangkaian peristiwa dalam tahapan pembangunan mesjid ini.
Adalah sebuah bukti yang menyadarkan kita bahwa sang pencipta kehidupan sungguh miliki berjuta jalan ketika berikan pertolongan atas hamba hambaNYA yang teguh..
Lalu kenapa dipilih nya design menyerupai Ka'bah, dan bukan seperti lazimnya masjid lain yang hampir selalu sertakan Kubah ?
Konon, kubah berbentuk setengah lingkaran yang dibagian puncak tengah lingkarannya terdapat lambang bulan sabit, dan ditengahnya terdapat bintang itu seolah jadi penanda disetiap bangunan mesjid.
Kata si penggas, ustadz Muhammad Yasmin, dakwahlah alasan utama design mesjid yang terletak tidak jauh dari kampung arabnya kota Palu itu.
Pria kelahiran lorong Makasar ini menuturkan perjalanan perjuangannya membersamai proses pembangunan mesjid Baiturahhim ini sedari awal hingga selesai.
Dikatakan, awalnya, tepatanya tahun 2016, masjid ini hanya sebuah pondok sederhana berukuran 4 x 6 yang berdiri diatas sepetak tanah yang digunakan sebagai tempat kegiatan Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA).
Satu tahun kemudian, tempat ini pun mulai difungsikan juga sebagai tempat sholat berjamaah bersama penduduk sekitar.
Niat tulus ustadz Muhammad Yasmin akan keinginan bebaskan warga sekitar dari buta Al qur'an yang diperjuangkannya penuh keikhlasan itu, bersambut dengan makin bertambahnya warga sekitar berdatangan belajar mengaji, dan sholat lima waktu disini.
Lantas, peristiwa unik pun terjadi kala itu adalah ketika gema adzan penanda sholat mahgrib tiba.
Pasalnya, sholat mahgrib berjamaah di masjid ini harus dilakukan dalam dua shift, sebuah moment unik, dan mungkin hanya terjadi di masjid ini.
Hal itu terpaksa ditempuh, karena dua alasan, keterbatasan tempat, dan bangunan berbentuk panggung itu dirasa mulai goyang tatkala seluruh jamaah yang hadir lakukan sholat serentak dan bersama sama.
Andai dipaksakan lakukan sholat secara bersamaan oleh semua jamaah yang hadir, bisa dipastikan pondok itu rubuh seketika.
Sehingga, pelaksanaan dua shift merupakan upaya antisipasi hindari hal itu terjadi
Adalah Haji Rahim, pria berdarah Bugis yang dituakan dilorong Makassar ini merasa prihatin menyaksikan kondisi itu.
Lantas, tergeraklah hatinya dengan mewakafkan sebidang tanah miliknya berukuran 5x10 guna memperluas tempat ibadah yang makin dipadati warga yang datang lakukan ibadah di sini.
Tidak berselang lama, sespuh asal Bugis pula, Haji Badar yang juga dituakan ditempat yang sama, ikut mewakafkan tanah miliknya seluas 5 x10 meter.
Dengan lahan yang makin luas, apakah tantangan wujudkan tempat ibadah berarti telah purna, ternyata tidak. Ujian kesabaran serta keteguhan itu bahkan seakan baru dimulai,
Di tengah semangat perjuangan memulai pembangunan mesjid itu berkobar, tiba tiba hadir musibah besar meluluh lantakkan seluruh sendi kehidupan masyarakat Kota Palu. Terjadi gempa, tsunami dan likuifaksi, tepatnya 28 September 2018.
Delapan bulan vakum dari kegiatan pembangunan mesjid sebagai imbas hadirnya bencana Palu, tidak menyurutkan semangat wujudkan impian warga lorong Makasar memiliki tempat ibadah di tengah kawasan mereka bermukim.
Ketika pertanyaan sampai pada nominal yang telah dihabiskan demi terwujudnya rumah ibadah ini, Muhammad Ilyas yang biasa dipanggil Ustadz oleh warga sekitar menyebut angka lima ratus juta, setengah milyar.
Rasa takjub awak media bukan pada angka nominal yang disebutkannya, etapi lebih pada cara perolehan yang benar-benar mutlak hanya bersandarkan pada pertolongan sang penguasa jagad raya ini.
Dengan digerakkannya hati hamba-hamba yang ditunjukNYA ulurkan tangan, ringankan proses penyelesaian pembangunan mesjid ini.
Ustadz yang miliki postur tubuh tambun itu akui bahwa medsos miliki peran pula atas kelancaran pendaan masuk, terutama dari Facebook .
Dia tebar info pembangunan mesjid ini di grup grup face book kota Palu. Dari sana mengalir bantuan berbagai kalangan yang tersentuh hatinya, lalu tergerak mengulurkan pendanaan yang tidak sedikit, dan dirasanya sangat membantu kelancaran pembangunan mesjid itu
“Tidak pernah ada uang mengendap,” ucapnya sembari duduk di ruang mesjid yang adem dan teduh itu.
Berapapun dana terkumpul kata dia lagi, berjuta, berpuluh juta akan langsung teralokasi demi wujudkan mesjid yang diinginkan dan penuh harap seluruh warga lorong Makasar itu.
Diceritakan ustad itu, hal yang paling berkesan dituturkan ustad itu, adalah ketika tiba hari sabtu, hari dimana para tukang harus menerima pembayaran gaji mingguannya, dahal acap kali kas kosong. Situasi seperti ini benar benar mendebarkan, layaknya tengah ikuti uji nyali saja rasanya.
Tapi masyaallah, ada saja jalan pertolongan dating. Pernah disuatu siang, datang seorang entah dari mana lakukan sholat dhuhur di masjid yang belum terselesaikan pembangunannya itu.
Ketika orang itu selesai berbincang dan lalu berpamitan, disodorkannya dana tiga juta, dua juta, bahkan pernah mencapai lima juta dilakukan secara cash, lung tinampi istilah dalam bahasa Jawanya.
Rasa penasaran media ini akan kontribusi pihak terkait, dalam hal ini pemerintah daerah pun terlontar, dan dengan lugas Ustadz M.Ilyas menjawab alhamdulillah sampai berdiri masjid ini, semua atas swadaya murni kami seluruh masyarakat Palu.
Dikatakan, beratnya prosedur adan terlalu berokratis diberlakukan pihak ini dalam setujui proposal yang beberapa kali pernah disodorkan.
USTAD M.YASMIN
"Berapa kali proposal kami ditolak, meski sudah berusaha penuhkan persyaratan,” tutur Ustadz dengan ringan, seringan ketika tuturkan bahwa hingga saat ini TPA (Taman Pendidikan Alquran) itu belum miliki ijin, karena beberapa persyaratan yang dirasa memberatkan.
Mengutip arti kata pepatah berakit rakit kehulu, berenang renang ketepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Keinginan sang penggagas, ustadz Muhammad Yasmin beserta seluruh warga lorong Makasar akan Masjid Baiturahhim kini terwujud sudah, dengan penuh berjuangan seraya terus bersandar pada Ridho sang pencipta kehidupan.
Lega dan penuh rasa syukur tentunya, bisa ikut berpartisipasi membantu bebaskan warga sekitar dari buta Al Qur'an dan telah miliki tempat Ibadah sendiri ditengah tempat hunian keseharian mereka, alhamdulillah.
Ketika berpamitan, dan beranjak tinggalkan mesjid Baitullah itu, awak media ini sempat menoleh lagi didua ratus meteran dari keberadaan mesjid ini.
Bukan lagi rasa penasaran menggelayuti pikiran menatap ada Ka'bah di tengah masyarakat lorong Makasar di Kota Palu, melainkan telah berganti haru yang menyeruak demi hayati perjalanan perjuangan hamba hamba Allah yang pantang menyerah wujudkan rumah ibadah untuk bersujud padNYA. (athia)