Kebohongan Saksi Verbalisan Di Sidang Kriminalisasi Wartawan Senior Udin Lamatta (bag.1)
Oleh : ATHIA
Tolitoli infoaktual.id - Setelah sempat alami dua kali penundaan, sidang dugaan Kriminalisasi Wartawan senior Udin Lamatta kembali digelar Senin, 5 Juni lalu di Pengadilan Negeri setempat, Tolitoli Sulteng.
Sidang dengan agenda Pemeriksaan verbalisan itu, sukses hadirkan
Salah seorang Penyidik Polres setempat sebagai Saksi.
Teramat sangat menarik dan torehkan kesan sebegitu mendalamnya dihati sanubariku, demi ikuti dan saksikan jalannya persidangan Senin siang itu.
Meski diiring gemuruh hujan sedemikian kerasnya siang itu, tidak kurangi ke khidmat an suasana dalam ruang persidangan.
Intonasi suara kuasa hukum terdakwa yang selalu terdengar besar lagi miliki power itu, tetap mampu saingi bebunyian curahan air hujan yang sedemikian derasnya saat itu
Lalu apa sih yang menarikku sebegitu menghayati persidangan pemeriksaan verbalisan itu ?
Untuk pertama kalinya, di depan mata kepalaku, dan dengan sebegitu vulgarnya tanpa tedeng aling aling, saksi yang hadir mewakili sebuah Institusi Penegakan Hukum negeri ini, mampu lakukan kebohongan demi kebohongan ketika bersaksi dihadapan Majelis Hakim
Sementara sebelum dimulainya persidangan, telah dijalaninya SUMPAH dengan KITAB SUCI AL QUR'AN diposisikan diatas kepalanya.
Teramat sangat MIRIS bukan ?
Ditulisanku mendatang aku akan beberkan kebohongan apa saja telah dilontarkan dengan begitu tenangnya oleh Saksi.
(Ahh.. tapi tidak tenang tenang amat juga sih menurut pengamatanku, Kenapa ? "Body Language".
Bahasa tubuh sepemahamanku sampai dengan saat ini, lebih seringnya gagal tutupi sebuah laku dusta. Bahkan sekedar untuk menyamarkannya sekalipun..
Andai aku gunaka kamera canggih waktu itu, aku sudah akan Zoom ketika nyata terlihat dipandanganku,
sebelah kaki kanan saksi yang terbungkus sepatu warna hitam itu, bergoyang goyang dengan sendirinya,
Lebih tepatnya digoyang goyangkannya, bergesekan dengan lantai
Gambaran apakah itu ? Menurutku lagi sebuah "Ketidak tenangan".
Lalu kenapa tetap tidak diketenangan meski bibir lancar berucap ?
Menjawab itu, hanya saksi sendiri dan Sang Pencipta kehidupanlah yang paling mengetahuinya (*)