Opini, oleh : athia
Tolitoli I infoaktual.id I Aku lupa dan agak lambat menuliskan. Dua hari berturutan, Senin dan Selasa lalu, delapan jam lamanya aku berada di Polres Tolitoli disatu harinya.
Membersamai proses pembuatan Berita Acara Wawancara (BAW). Masih tentang 'pertengkaran', lapor melapor antar dua orang "kuat" di kota cengkeh ini.
Mantan Bupati dua periode di satu pihak, dengan seorang Jurnalis kawakan, putra daerah Tolitoli dipihak lainnya.
Ada yang menarik catatanku. Di Senin itu, di sela ketegangan diskusi pihak polres dan pelapor ketika ungkapkan kebenarannya dari sisi masing masing, tiba-tiba salah seorang pihak Polres yang ada diruangan itu ijinkan aku mengambil dokumentasi. "Ibu mau ambil foto kah, mau video , atau mau merekam, silahkan saja..", begitu ucapnya tegas.
Tentu, diam diam aku agak kaget. Antara percaya dan tidak untuk apa yang barusan aku dengar. Sampai sampai sempat terpikir, tengah marahkah beliau ini ?
Untuk memastikan kebenaran pendengaranku, dengan sesantun mungkin aku tanyakan lagi, "Jadi saya boleh ambil foto ?", kataku balik bertanya sambil bersiap arahkan kamera ke obyek yang aku inginkan.
Tapi, belum sempat aku benar-benar melakukannya, beliau berucap lagi, "Tunggu, untuk kepentingan apa dulu ?". Yee...tadi bilangnya boleh...gerutuku dalam hati saja. "Tentunya untuk kepentingan berita." jawab ku kemudian, tetap berupaya sesantun mungkin.
Beliau menimpali pernyataanku, lagi-lagi dengan penjelasan yang berulang sama selalu di 'wejangkan' selama aku wara wiri di kantor Polres hampir satu tahun ini.
Menurutku, lucu saja tindakannya. Hanya dalam hitungan detik, beliau ucapkan dua pernyataan saling bertentangan. Mempersilahkan, tapi lalu diikuti lagi kalimat yang (terkesan) melarang nya.
Aku jadi berkesimpulan, barangkali sebegitu kesalnya beliau untuk apa yang selalu aku lakukan. Sampai sampai, bahkan menyuruhku lakukan apa yang selalu dilarangnya, mengambil dokumentasi foto..
Sekedar ingin bercerita, selama hampir satu tahun jalani tugas jurnalis, aku dikenali sebagai suka abadikan moment dengan diam-diam, tanpa sepengetahuan mereka, tepatnya, luput dari perhatian mereka.
Sering terjadi, mereka merasa dikejutkan dengan foto yang terpampang disatu tayangan berita setelah wawancara sebelumnya tentang isi berita tersebut. Perjalanan selanjutnya, aku tidak lagi heran ketika satu kali, di tengah pembicaraan yang lagi seru serunya, pernah tiba-tiba disela celetukan"Ibu tidak merekam kan?" Waktu itu, spontan aku jawab tidak, karena kebetulan memang aku tidak sedang merekamnya saat itu.
Terkadang aku merasa aneh, lebih tepatnya heran, dipenuhi tanda tanya, kenapa seolah mereka begitu khawatir dengan kamera ponsel ku, dengan rekaman, juga rekaman video yang sesekali aku lakukan ?
Takutkah aku tiap ditegur untuk tindakanku selama ini ? Awalnya iya,tapi seiring berjalannya waktu, seiring dengan pemahamanku yang makin utuh tentang profesi yang aku jalani, aku tenang saja melakukannya.
Aku mengingat kalimat yang selalu di tanamkan Pemred ditiap arahannya bahwa tindakan kita sebagai jurnalis untuk mendokumentasikan apapun yang kita perlukan untuk kepentingan pemberitaan dilindungi UU. "Lakukan saja !", begitu selalu kalimat pemred yang aku rasakan sebagai support. Dan pelan namun pasti, makin mengukuhkan keberanianku. (Athia).