15 Desember 2022 | Dilihat: 726 Kali
Kutelusur Fakta Impiris Matanggauk Gaukan Totolri, Dan Urgensi Festival Budaya (bag.1)
noeh21

Oleh : Athia 
Infoaktual.id Tolitoli - Sulteng I Pekan kemaren (6 s/d 9 Desember 2022), suasana perkatoran di Tolitoli Sulteng lebih sunyi dari hari  sebelumnya, yang memang lebih sering terasakan dari semarak suasana lazimnya sebuah perkantoran seperti di daerah lain. 

"Perkantoran di Tolitoli lumpuh," ucap pemredku ketika temui hanya seorang pegawai perempuan dibagia pemerintahan kantor Bupati.  Sementara ruangan demi ruangan dalam gedung nan luas lagi megah itu, nyaris tak berpenghuni pada Kamis siang minggu lalu,


Matanggauk Totolri. Istilah dalam bahasa Tolitoli yang berarti peringatan hari penobatan Raja Tolitoli, diduga sumber dari kelengangan perkantoran plus jalanan kota Tolitoli selama sepekan lalu. 

Lalu apakah para pegawai dari setiap kantor sebenar benar tengah terlibat,  berkontribusi atas persiapan sampai  berlangsungnya perhelatan itu ? 


Ataukah hanya aji mumpung, mengatas namakan moment tahunan Manggauk ini untuk kepentingan pribadi masing masing ? Entahlah, hanya mereka yang mengetahuinya dengan pasti.

Upacara adat peringatan hari penobatan Raja, lalu diikuti festival budaya ditenga inplasi dunia, tentu sangatlah menarik bagiku yang seorang pendatang baru di daerah ini. 


Dibuatnya aku penasaran, mana impirisnya, lalu sepenting dan akan seperti apakah perhelatan itu, dengan ongkos yang kabarnya nyaris mencapai satu muliar rupiah ?

Sayangnya, ketika aku mengkonfirmasi tentang rencana peliputan moment adat itu, ternyata pemred mediaku tidak jadwalkan itu. 

Aku lupa, sedari awal gabung di media ini, bahwa hanya hal hal bersifat legal dan membawa manfaat bagi masyarakat sajalah menjadi orientasi dasar peliputan mediaku pada setiap peristiwa, seperti ini : KETIKA ADAB PERADABAN ADAT PUPUS TERGERUS HIANAT | https://youtu.be/sYt9xb3C_B8

Meski begitu, semangatku ikuti perhelatan bernuansa budaya ini tidaklah sirna begitu saja,  malah beralih ke rasa ingin tahu yang sedemikian menggebunya, atas acara adat tahunan daerah yang dalam pandanganku seolah DIKESANKAN AKBAR ini. 

Pada hari H peringatan Matanggauk itu, di tempat lain aku membersamai Pemred berbincang dengan beberapa "orang lama" daerah ini. Rasa penasaran sedikit terselesaikan setelah menyimak pembicaraan demi pembicaraan mereka seputar upacara adat Tolitoli ini.


Raja Kapujian, ucap seorang mantan pejabat daerah dengan dialeknya sulawesi selatan yang lalu  ditingkahi tawa lepas Pemred ku. Obrolan ringan seputar sang Raja dengan upacara adat pun mengalir begitu saja di teras belakang rumahnya nan asri karena dipenuhi tanaman hijau yang tertata rapi.

Di tempat terpisah, seorang dedengkot bidang seni daerah itu pun  berucap."Saya sama pak Udin ini (pemredku), sampai sekarang, sudah mau mati ini, belum pernah lihat, apalagi rasakan makanan khas daerah ini seperti apa, apa ke khasan kuliner Tolitoli ini, tidak jelas," ucapnya. 

Dia lalu mempertegas lagi sebelum akhiri percakapan itu. “jadi apa urgensinya festival budaya itu ?”

Keesokan harinya, di H+1, ditempat usaha milik seorang keturunan Tionghoa, anak seorang pengusaha tempo dulu, yang konon miliki andil serta banyak berkontribusi bagi terbentuknya daerah ini.

Bincang bincang seputar acara tahunan wilayah ini pun berlanjut.  Seorang bermata sipit yang low profile dihadapanku saat itu bercerita dari sisi sejarah. Tentu akan sangat panjang andai aku tuliskan keseluruhan percakapan menarik siang itu. 

Pada intinya, sampai diujung pembicaraan,  dipertanyakanlah siapa sebenarnya Raja pertama di Tolitoli ini, dan bagaimana perjalanan kisahnya bisa sampai pada Raja ke sekian disaat ini ?

Dan, pembicaraan cukup seru pada hari itu terjadi di sebuah ruang kantor dinas yang juga membidangi budaya.


Disana sempat terbahas tentang nominal anggaran digelontorkan pemda untuk terselenggaranya acara tahunan ini. Jumlah yang lumayan fantastis menurutku, mendekati satu em(ber), istilah candaan yang selalu aku gunakan untuk menyebut kata milyar. 

Mensejajarkan angka nominal itu dengan fakta lapangan yang terjadi, dan urgensi atas perhelatan matanggauk dan festival itu, menurutku pemahaman "Akbar" lebih tepat disematkan untuk pendanaannya,bukan pada perhelatannya.


Apalagi, kebenaran impiris Matanggauk yang digelar di lahan sengketa, dan urgensi festival budaya itu, masih terus diburu, dipertanyakan. (*).

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan Anoa No 27 Palu  0822-960-501-77
E-Mail : Infoaktual17@yahoo.com
Rek : mandiri 1510005409963