30 April 2021 | Dilihat: 673 Kali
PERLAWANAN PENA DARI DIA TERZOLIMI PENGUASA
noeh21
a t h i a


Oleh : Athia

Aku merasakan kebenaran dari sebuah pepatah kuno, bahwa Pena lebih tajam dari sebuah Pedang. Ya, hampir tujuh bulan membersamai proses pelaporan seorang yang terdzalimi.

Terdzalimi atas hak sebidang lahan kebun kelapa yang diserobot dengan semena mena oleh “penguasa” di daerah setempat, memberi ku begitu banyak pembelajaran.

Dua hal inti yang menjadikan perenungan ku, pertama adalah betapa ungkapan Money is the King masih saja mendominasi penyelesaian atas banyak persoalan yang terjadi di negeri ini.

Kedua, tentang sebuah bara semangat yang tidak pernah padam dari seorang rakyat biasa yang menuntut hak serta perlakuan adil.

Betapa tidak, selama hampir tujuh bulan ini, hanyalah proses melanjutkan kembali sebuah perjuangan yang pernah dilakukannya sejak tahun 1996, dua puluh lima tahun silam.  

Adalah waktu yang cukup panjang untuk sebuah kesabaran dalam menerima perlakuan zalim tadi. “Tembok kekuasaan” itu terlalu kokoh untuk ditembus, sehingga wajar jika kesabaran orang kecil itu pupus, lalu berganti dengan perlawanan.

Berlandaskan sebuah kobar semangat, sang rakyat kecil itu kemudian datang lagi dengan membawa idealisme tinggi yang dimiliki, kembali kobarkan banyak hal, termasuk “rasa”.

Ia datang berjuang menjemput haknya melalui sebuah pena. Dan sebuah tulisan berita tentang kronologi peristiwa itu pun tayang di sebuah media online, setelah tiga kali dua puluh empat jam menuangkan segala apa yang dialaminya selama ini, diiringi emosi yang mengaduk aduk perasaan.

Dan benar. Setelah berita itu tayang, dan dalam durasi waktu kurang dari satu jam, sudah terbaca oleh hampir lima ratus orang itu,  beruntun bermunculan berbagai komentar, dan sebagiannya berupa dukungan.

Aku pun men share beritanya ke beberapa grup di media sosial. Banjir bullyan pun harus aku terima dari pihak yang kontra, tentu saja, tapi aku genggam saja sebagai latihan ku mengelola emosi.

Di hari ke dua, ponsel si pejuang sekaligus Pemred itu ku lihat disibukkan oleh para penelfon. Tidak tanggung tanggung, dari seorang Kadis daerah setempat yang tentu saja berkeberatan di sebut kan namanya, dan beberapa LSM yang menyatakan dukungan, tidak tertinggal seorang Lawyer handal di Ibu Kota Sulawesi Tengah.

Ternyata, betapa sebuah Pena mampu membangunkan “Ular” yang tengah terlelap kezaliman yang dia alami selama25 tahun itu .

Hmmm, tampaknya ini merupakan awal sebuah keberhasilan dari perjuangan seorang jurnalis senior yang tanpa lelah mengejar haknya oleh perilaku serakah penguasa di daerah itu, semoga. (Penulis adalah pemerhati kemanusiaan dan alumni Sosiologi Universita Sebelas Maret Surakarta, 1993).

*Redaksi :
 Jika pembaca minat jendela sastrawi ini, silahkan kirim karyanya ke meja edaksi infoaktual.id. 
 Naskah diedit tanpa ilangkan makna naskah aslinya.

Alamat Redaksi/ Tata Usaha

Jalan Anoa No 27 Palu  0822-960-501-77
E-Mail : Infoaktual17@yahoo.com
Rek : mandiri 1510005409963