Oleh : Athia
infoaktual.id |Tadi pagi 14/5/2021 selepas waktu subuh, dengan persaan hancur aku saksikan penguburan se ekor kucing di rumah yang meninggal tadi malam 02.00 wita. Aku sedih tentu saja. Sangat sedih. Baru satu bulan ini dia temani keseharianku dengan segala kelucuan tingkah polahnya.
Aku miliki tiga kucing di rumah, masing-masing aku namai Uti, singkatan dari putih, bulunya berwarna putih bersih. Ke dua, si Cuplis,dia mungil tapi sangat lincah. Ketiga nya si Elang, kependekan dari kata Belang.
Aku pernah dengar elang termasuk kucing langka, karena ada tiga warna di bulunya. Ketika pertama kali aku bawa ke rumah, si Uti beberapa kali terlihat menyerangnya, berusaha menggigit kepalanya.
Terlihat lucu, karena elang yang masih sangat mungil itu seolah tidak miliki rasa takut. Bahkan, dia balik melawan dengan caranya, seru kalau ke duanya berdekatan.
Tapi, aku buru buru mengambilnya ke gendonganku ketika serangan Uti sudah makin serius.Bersyukurnya, ‘penolakan’ itu hanya berlangsung beberapa hari saja. Selebih nya mereka bertiga bak tiga bersaudara yang saling menyayangi satu sama lain.
Senang mengamati ketiganya, saling ungkapkan kasih sayang melalui bahasa tubuh nya.Tapi, pemandangan dihadapan ku tadi malam sontak membuat mataku memanas dan lalu air mataku pun menetes, dan tumpah.
Betapa tidak, ketika si elang ada di puncak kritis nya, tertelungkup lemah karena selalu menolak tiap suapan yang aku angsurkan ke mulut mungilnya. Cuplis dengan sangat gigihnya menjilati tubuh elang.
Aku rasakan semangat ditiap gerakan jilatannya. Berusaha membangunkan elang yang makin melemah.
Mungkin aku tidak lagi bersikap logis. Aku dekat kan hp disisi tubuh elang yang kian melemah, lalu aku putar lantunan suara mengaji. Aku sudah tidak tau lagi harus lakukan apa untuk menolongnya..
Vitamin, susu, sampai pada air rebusan akar tanaman akar kucing sudah aku suapkan penuh kasih sayang untuknya. Upaya untuk menolongnya sudah aku lakukan semaksimal aku bisa.
Tapi subhanallah, sentakan kejang di tubuh mungil itu hanya berlangsung satu kali saja, selebihnya tubuh mungil kucing kesayanganku itu pun terdiam kaku. Pemandangan yang teramat menyayat perasaanku, adalah ketika si Cuplis seketika hentikan jilatannya, lalu beralih menatapku dengan pandangan tegang.
Andai dia bisa bicara dengan bahasa manusia, barangkali dia hendak sampaikan bahwa si elang sudah pergi untuk selamanya. Kesedihanku makin terasakan ketika si cuplis beringsut ke pelukanku. Gerakan tubuhnya yang menempel di pelukanku seolah ungkapan kesedihannya.
Aku elus tubuhnya dengan sepenuh perasaan haru ku, dia miliki kesetiaan luar biasa. Menemani ‘saudara’ kecilnya hingga di nafas terakhir, subhanallah..
'Elang’ mungil ku kini sudah di kuburkan, didepan kesedihan dan tangis ku yang tidak bisa terbendung lagi, meski aku berusaha ikhlaskan.
Aku sudah berupaya memberinya Cinta yang penuh selama dia bersamaku.
Selamat jalan ‘elang’ mungilku. Trima kasih sudah menemaniku lewatkan waktu selama ini*
(penulis : Alumni Sosiologi Universitas Sebelas Maret Surakarta).