Oleh : ATHIA
Infoaktual.id - Tolitoli I Sidang Kriminalisasi Wartawan Senior Udin Lamatta, di PN wilayah kabupaten tempatku bergiat, Senin 15 Mei lalu
Menorehkan kesan sebegitu mendalamnya disanubariku. Bagaimana tidak ?
Sang terdakwa, yang ketika jalankan profesi investigasinya, tak mengenal ampun sepanjang berdiri direl kebenaran
tak peduli apa dan siapa akan dihadapinya untuk perolehan sebuah data valid itu, sempat "speechless" ketika terima pertanyaan sang Hakim
Persidangan sempat di skors sejenak demi beri kesempatan Sesepuh Jurnalis Tolitoli yang meminta kesempatan minum terlebih dulu sebelum berikan jawaban
Ketika sidang dilanjut, air yang telah direguknya itu, ternyata tetap saja tak mampu alihkan perasaan yang tengah mengharu biru emosinya di kursi terdakwa
Pertanyaan sederhana sebenarnya, "Apakah anda rasa bersalah ? Apakah anda rasa menyesal ?",
Dua pertanyaan itu dilontarkan sang Hakim, seusai mencecar dengan sekian pertanyaan sebelumnya,
dengan intonasi yang menurutku teramat sesakkan pendengaran pula, serasa harus menahan nafas saat mendengarnya
Sungguh, aku sendiri tidak pernah berpikir akan jawaban terdakwa atas dua pertanyaan itu
Meski tetap dengan suara lantang, sempat terdengar upaya keras Pemred media Infoaktual itu menahan tangisnya
"Iya saya menyesal yang Mulia. Saya menyesal menjadi Jurnalis idealis, yang tidak pernah bisa diamkan penyimpangan sekecil apapun terjadi didepan mata saya"
Meski suara makin parau terdengar, terdakwa teruskan jawabannya
"Saya ini miskin yang Mulia. Saya rasa bersalah kenapa saya tidak pernah mau di suap untuk diamkan kesalahan.." tangis yang sekuatnya ditahan itupun pecah.. Lalu terhenti. Dan Senyap..
Sampai sampai sang Hakim Ketua perintahkan seorang petugas yang berjaga dipintu masuk ruangan sidang, bawakan satu box tissue untuk terdakwa
Aku lebih memilih langkahkan kaki keluar ruang persidangan sejenak, sebelum air mataku benar benar ikut menetes menahan keharuan
Seolah ikut merasai "emosi" tertahan yang lalu tumpah dalam tangisan yang akhirnya pecah itu..
Ketika telah berhasil kuasai diri, aku kembali memasuki ruang persidangan yang terasakan telah berubah suasananya..
Sempat terlihat salah seorang hakim tengah mengenakan kembali kacamata yang sempat dilepasnya..
(Next)