Tausiah Subuh Prof Dr Al-Habib Ahmad Al-Kaf di Masjid Al-Isra Johar Baru : Merugilah Bila Ramadhan Berakhir Tanpa Bekas
Infoaktual.id Jakarta || Ramadhan diibaratkan musim tanam pahala. Jika lewat tanpa perubahan diri, itulah kerugian terbesar. Penegasan itu disampaikan Prof Dr Al-Habib Ahmad Al-Kaf dalam tausiah Subuh di Masjid Al-Isra, Johar Baru, Jakarta Pusat, Minggu pagi, 15/3/2026.
Menurut Habib Ahmad, tidak memperoleh apa-apa dari Ramadhan berarti tiada perubahan sikap—ibadah, tutur kata, dan hubungan sosial tetap sama, tak naik takwa dan ampunan, padahal malam-malam Ramadhan penuh maghfirah, serta melewatkan Lailatul Qadar tanpa persiapan hati.
“Jangan sampai tergolong rugi. Tanda sederhana: pasca-Ramadhan kita lebih rutin salat dan zikir, lebih menjaga lisan, dan lebih ringan bersedekah walau kecil. Bila satu kebiasaan baik bertahan, Ramadhan tidak sia-sia,” ujarnya.
Makna I’tikaf di 10 malam terakhir Dalam tausiahnya, Habib Ahmad menjelaskan, I’tikaf adalah mengasingkan diri di masjid untuk fokus ibadah—salat, zikir, tilawah, dan doa. Pada 10 hari akhir Ramadhan, I’tikaf punya nilai khusus.
Nilai khusus dimaksud adalah menghidupkan malam yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam lebih baik dari seribu bulan.
Rasulullah SAW senantiasa beri’tikaf diperiode ini, bahkan 20 hari pada tahun wafatnya. I’tikaf juga membersihkan hati dengan mengurangi bicara dan urusan dunia, sehingga doa lebih khusyuk.
“Ini retret spiritual singkat, mengunci diri di masjid, memperbanyak amal, berharap ampunan dan Lailatul Qadar,” jelasnya.
Gas maksimal 5 hari terakhir Memasuki lima hari akhir, Habib Ahmad mendorong jamaah “tancap gas”. Ia memberi langkah praktis, yakni tambah dua rakaat qiyam tiap malam dan satu sampai dua halaman tilawah seusai Subuh.
Intinya, manfaatkan waktu emas menjelang Magrib dan sepertiga malam terakhir untuk istighfar serta doa utama. Sedekah tiap hari, meski nominal kecil, lalu jaga lisan dan mata dengan mengurangi debat serta media sosial tak faedah.
“Ganti dengan zikir; dan niatkan I’tikaf walau beberapa jam untuk mengejar malam ganjil. Anggap ini akad baru. Bila besok Idulfitri, kebiasaan baik apa yang akan kita bawa terus? Itulah ukuran iman naik,” pesan Al-Habib Ahmad Al-Kaf itu.(red)