Oleh : ATHIA
Infoaktual.id - Tolitoli I Membersamai jalannya sidang Kriminalisasi Wartawan Senior Udin Lamatta selama ini
Membuatku jadi berpikir, andai jujur, tentu tidaklah setiap yang terduduk di kursi pesakitan dalam persidangan,
Merelakan dirinya dicecar pertanyaan oleh Hakim dengan intonasi yang lebih seringnya "menyesakkan" pendengaran..
Itupun kalau kemudiannya ketika terdakwa tengah jawab cecaran pertanyaannya akan "berimbang"
Yang aku saksikan selama ikuti jalannya sidang ini, yang konon informasi banyak orang diluaran, baru terjadi untuk pertama kalinya di kota kabupaten tempatku bergiat saat ini
Menurut hematku, serasa sedemikian terbatasnya "ruang" bagi terdakwa ketika beberkan sebuah penjelasan, atau reason akan sebuah penjelasan
Aku mengibaratkan, untuk mencapai ke satu tujuan ada tersedia beberapa jalan
Tapi seolah variasi ini tidak berlaku untuk terdakwa. Terkesan harus sama sama lewati jalan yang telah dipersiapkan oleh pemberi pertanyaan,
tidak ada kebebasan memilih jalan alternatif, meski ujungnya untuk menuju tujuan akhir yang sama.
Bahkan sekedar untuk maksud memperjelas sebuah alasan kenapa gunakan jalan alternatif itu sekalipun
Apalagi saat terlihat sesekali terdakwa buat suatu analogi..atau katakan kalimat pencerah untuk menerang benderang kan satu maksud
Yang akan terjadi kemudiannya, sepanjang bukan jalan yang telah dipersiapkan, jangan berharap bakalan didengar. Akan langsung dipangkas disertai alasan yang harus dimengerti sebagai masuk di akal
Sekedar tambahkan kalimat untuk sampai pada pemahaman utuh sekalipun, terkesan 'no way" banget lah pokoknya..
Sungguh, ternyata bukan persoalan mudah terduduk di kursi terdakwa, selain harus miliki kesabaran berlapis, pun harus "bernyali" . Uniknya nyali itu harus tetap dikemas dengan tampilan ketenangan..tidak ada bantahan
Selama ikuti beberapa kali persidangan yang telah lewat, sempat imaginasiku mengembara jauh ke masa laluku. Masa semasih di rumah Solo. Rumah kedua orang tuaku berpulub tahun lalu
Suara yang aku dengar dalam suasana hening bernuansa sakral di rumah saat itu hanyalah kata .. " Inggih, sendiko dhawuh..." dari orang orang yang tiap aku meminta sesuatu..
Ga kebayang bagaimana akan merontanya jiwa "ke bendoroan" ku andai aku di posisi seperti terdakwa yang aku saksikan selama ini
Terima bentakan. Penghentian sepihak lagi mendadak ketika menjawab. Dipanggil dengan suara lantang..
Semoga kesemua itu tidak akan pernah aku alami.. jauhkan yaa ALLAH.. (Next)